Petualangan Seru: 3 Hari di Taman Nasional Ujung Kulon

petualangan seru 3 hari di taman nasional ujung kulon
petualangan seru 3 hari di taman nasional ujung kulon
4/5 - (1 vote)

Wisata seru di Ujung Kulon ini menjadi pembuka liburan bersama teman kantor tahun ini. Selama tiga hari dua malam kami menikmati keindahan alam dan aktivitas seru yang ditawarkan Ujung Kulon, Banten yang masih menyimpan keindahan alamnya. Pantai Ciputih, Padang Gembala Cidaon, Pulau Peucang, Pulau Badul, Pulau Handelem dan Sungai Cigenter menjadi destinasi yang kami kunjungi selama berwisata di Ujung Kulon.

Semoga artikel pengalaman perjalanan wisata di Ujung Kulon ini bisa menjadi referensi dan gambaran bagi anda yang juga berniat menghabiskan liburan mendatang dengan destinasi yang sama yaitu

Taman Nasional Ujung Kulon Banten

1. Perjalanan Dari Jakarta Menuju Pantai Ciputih Sumur Banten

Sama seperti wisata-wisata sebelumnya, kantor Bank BTN kami yang terletak di kawasan Ciputat menjadi titik pertemuan dan titik awal perjalanan wisata yang selalu terjadwal beberapa kali dalam setahun. Tak hanya keseruan menikmati liburan, keakraban silaturahmi pun semakin erat setelah menyelesaikan beberapa hari berwisata.

Foto bersama sebelum memulai perjalanan. Selain ingin bersenang-senang dan menikmati keseruan aktivitas, perjalanan yang rutin kami lakukan menambah keakraban antar rekan kerja.

Pada hari Jumat sekitar pukul 22.30 kami memulai perjalanan menggunakan bus besar berkapasitas 45 kursi. Banyak rekan kerja yang tertarik dan ingin mengikuti wisata Ujung Kulon, sehingga panitia harus menyiapkan tiga bus untuk mengantar kami semua menuju desa Sumur Banten.

Perkiraan perjalanan sekitar 6 jam terlewat karena truk pengangkut mobil mengalami kecelakaan dan menghalangi sebagian jalan. Seharusnya kami sampai di Ciputih Resort jam 4 pagi, namun akhirnya tertunda hingga jam 6 pagi. Bukan hanya kecelakaan di jalan tol yang menyebabkan perjalanan sedikit terhambat, namun kondisi jalan di desa Sumur rusak parah sehingga bus yang kami tumpangi harus melaju perlahan. Namun goyangan bus di jalan bergelombang seperti perahu di tengah laut justru membuat perjalanan kami seru dan memberi kesan tersendiri dalam wisata ini.

2. Naik Kapal dan Keseruan Wisata Taman Nasional Ujung Kulon Segera Dimulai

Setelah sampai di Ciputih Beach Resort yang menjadi lokasi menginap selama tour kami di Ujung Kulon, kami langsung diarahkan oleh tour guide untuk berganti pakaian basah dan membawa baju ganti karena setelah makan siang akan ada kegiatan snorkeling.

Setelah semua orang berganti pakaian pantai, kami berkumpul di pantai Ciputih untuk menaiki perahu. Dari kejauhan terlihat 4 perahu yang akan digunakan untuk menuju Taman Nasional Ujung Kulon. Namun ternyata yang digunakan penumpang hanya 3 kapal saja, 1 kapal lagi akan menjadi kapal pengangkut makanan selama melakukan aktivitas wisata di Ujung Kulon.

Perahu merupakan satu-satunya alat transportasi yang digunakan untuk mencapai lokasi wisata Taman Nasional Ujung Kulon, tidak hanya sebagai alat transportasi, perahu yang kami gunakan juga sebagai tempat menikmati sarapan dan makan siang.

Ukuran kapal yang kami gunakan cukup besar, mampu menampung sekitar 25-30 penumpang tanpa harus duduk berdesakan. Untuk bisa menaiki kapal induk yang tidak bisa merapat ke pantai ini, kita akan dibawa menggunakan perahu kecil yang mampu membawa 10 orang dari bibir pantai. Panitia telah menyiapkan 3 buah perahu kecil yang tugasnya membawa kami semua menuju kapal induk. Menaiki kapal induk, seluruh peserta diwajibkan mengenakan jaket pelampung selama perjalanan laut menuju Taman Nasional Ujung Kulon. Durasi untuk sampai ke Taman Nasional Ujung Kulon diperkirakan 2,5 – 3 jam perjalanan.

Awalnya kami mengira sarapan akan disajikan di Ciputih Resort tempat kami menginap, namun ternyata sarapan akan disajikan di atas kapal saat berlayar menuju lokasi wisata. Menikmati sarapan pagi sambil menikmati indahnya pemandangan laut di kawasan Ujung Kulon menjadi daya tarik tersendiri dari wisata ini. Benar-benar terasa seperti objek wisata alam, jauh dari restoran-restoran yang sehari-hari bisa kita temukan di kota.

3. Wildlife Monitoring di Taman Penggembalaan Cidaon

Setelah berlayar selama 2,5 jam menuju ujung barat Pulau Jawa, kami kembali merapat dan berlabuh di darat. Semua kapal berlabuh di dermaga kecil yang ditopang tiang beton berlantai kayu dan menjorok ke laut sepanjang kurang lebih 50 meter. Dermaga yang tersedia berbentuk seperti jembatan dengan lebar sekitar 2 meter, cukup kokoh dan aman untuk akses kita dari kapal hingga mendarat.

Hutan lebat pohon bakau di sepanjang garis pantai berpasir putih menjadi pemandangan utama laut di lokasi ini. Dipandu oleh Tour Guide kami berjalan di tengah pepohonan menuju lebih dalam ke dalam hutan. Banyak terdapat lubang-lubang kecil di kiri dan kanan jalan yang kami lalui, yang ternyata merupakan sarang kepiting sebagai tempat berlindung.

Hanya membutuhkan waktu 5 menit saja kami sudah sampai di padang penggembalaan Cidaon, yaitu hamparan padang rumput seluas kurang lebih 4 hektar yang sengaja dibuat sebagai tempat mencari makan satwa liar di Taman Nasional Ujung Kulon. Pagi dan sore hari adalah waktu terbaik jika ingin menyaksikan satwa liar berkumpul dan makan di Taman Penggembalaan Cidaon. Hewan liar seperti banteng, kerbau, sapi, burung merak hijau, sangat sering terlihat dan berkumpul di padang rumput ini. Menurut pemandu wisata yang memandu kami, beberapa waktu lalu petugas Taman Nasional Ujung Kulon melihat dan mengabadikan gambar harimau jawa memangsa kerbau menggunakan kamera ponselnya.

Padang Penggembalaan Cidaon, merupakan padang savana seluas ± 4 hektar yang menjadi tempat berkumpulnya satwa liar di Taman Nasional Ujung Kulon untuk makan dan berjemur di bawah terik matahari.

Agar tidak mengganggu dan menyebabkan hewan yang sedang makan lari ke dalam hutan, pemandu mengingatkan kami untuk tidak bersuara dan berjalan perlahan untuk mengurangi suara langkah kaki jika ingin memotret hewan di penggembalaan Cidaon Ujung Kulon. bidang. Setelah puas memantau langsung satwa liar di ladang Cidaon, kami kembali ke kapal untuk menjelajahi Taman Nasional Ujung Kulon menuju tujuan selanjutnya.

4. Explore Alam Liar Lewat Aktivitas Trekking di Pulau Peucang

Satwa liar seperti rusa, kera ekor panjang, babi hutan, dan biawak menjadi pemandangan menarik saat Anda menginjakkan kaki di Pulau Peucang. Namun meski hidup di hutan liar, hewan-hewan yang berkeliaran di Pulau Peucang tidak terlihat ganas atau lari ke dalam hutan jika melihat kita, mereka seolah sudah terbiasa dengan kehadiran manusia.

Satwa liar seperti kera ekor panjang, rusa, babi hutan, biawak hadir menyambut kami saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Peucang.

Nama Peucang yang diberikan pada pulau ini diambil dari hewan laut mirip siput yang dulunya banyak ditemukan di pesisir pantai pulau yang memiliki luas sekitar 450 hektar ini.

Setelah berdoa, istirahat dan menikmati pemandangan serta bermain sejenak di pantai Pulau Peucang, kami melanjutkan aktivitas dengan trekking lebih jauh ke dalam hutan di Pulau Peucang. Jalan yang kami lalui dipenuhi dedaunan berguguran dari pepohonan yang tumbuh lebat di hutan ini. Sesekali kami melihat monyet ekor panjang bergelantungan, dan rusa dari balik pepohonan.

Berjalan kurang lebih setengah jam masuk ke dalam hutan, akhirnya kami berhenti di sebuah pohon besar bernama pohon Kiara. Lokasi ini juga menjadi titik akhir trekking kami menuju tengah hutan di Pulau Peucang, Ujung Kulon. Sebenarnya kalau kita ingin melanjutkan perjalanan sejauh 2 kilometer lagi akan ada lokasi bernama Karang Copong. Menurut pemandu yang menemani kami, di Karang Copong kita bisa melihat karang-karang alami berukuran besar membentuk bukit-bukit kecil dengan pemandangan yang cukup indah ke arah laut lepas. Namun karena keterbatasan waktu, akhirnya kami berjalan kembali ke kapal untuk melanjutkan aktivitas selanjutnya.

Foto bersama di bawah pohon Kiara Strangler yang berumur ratusan tahun, tanaman yang tumbuh dari biji yang dibawa oleh burung atau kera. Ini adalah tanaman yang awalnya tumbuh dan menyebar di pohon lain, namun lambat laun membunuh pohon yang ditumbuhinya.

5. Menikmati Keindahan Underwater Lewat Aktivitas Snorkeling di Spot Legon Sumino dan Ciapus

Setelah lelah trekking di dua lokasi di Ujung Kulon, kini saatnya menyegarkan badan dengan menikmati jernih dan segarnya air laut di Ujung Kulon. Kami kembali ke perahu dan menuju ke spot snorkeling. Ada dua titik hari ini yang akan dijadikan lokasi snorkeling dalam wisata Ujung Kulon ini, yakni spot Legon Sumino dan spot snorkeling Ciapus.

Setelah mendapat pengarahan dari pemandu mengenai penggunaan peralatan dan mengingatkan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan dalam menjaga keindahan dan kelestarian pemandangan bawah laut Ujung Kulon, kami tidak sabar untuk terjun dan memulai aktivitas snorkeling.

Tak hanya pemandangan pulau dan pantainya yang mempesona, pemandangan bawah laut di Taman Nasional Ujung Kulon juga mampu menghipnotis kita untuk berlama-lama di permukaan laut melalui aktivitas snorkeling.

Menemukan Nemo di Legon Sumino Spot

Tak lebih dari lima menit perahu berlayar, kami sampai di titik snorkeling Legon Sumino. Ternyata lokasi snorkeling pertama di Ujung Kulon terletak hanya beberapa puluh meter dari Pulau Peucang. Bahkan tepian pulau dan garis pantai Pulau Peucang masih bisa kita lihat dengan jelas dari lokasi snorkeling Legon Sumino.

Dalam keadaan normal kedalaman air di spot Legon Sumino berkisar satu hingga dua meter, ditumbuhi berbagai bebatuan karang dan terdapat cukup banyak ikan-ikan kecil yang dapat menjadi tontonan menarik. Jika kita bersabar menyusuri karang, kita bisa menemukan ikan nemo yang bersembunyi di celah-celah karang. Jernihnya air di spot Legon Sumino membuat kita mudah dan jernih dalam melihat keindahan pemandangan bawah laut Ujung Kulon.

Tak kalah menarik dari Legon Sumino, Spot Ciapus Ujung Kulon menjadi ajang lomba menyelam sambil menikmati indahnya pemandangan biota laut.

Lomba menyelam di Ciapus Spot

Masih di sekitar Pulau Peucang Ujung Kulon, dari Legon Sumino kami kembali menaiki perahu dan menuju kawasan laut antara Pulau Jawa dan Pulau Pecang. Ciapus memiliki perairan yang sedikit lebih dalam dibandingkan Legon Sumino, dengan air yang juga sangat jernih dan berwarna kebiruan serta dihiasi karang dan ikan yang tidak kalah menariknya. Kami betah berlama-lama di lokasi ini, tak mau ketinggalan momen tersebut, kami banyak mengabadikan foto kebersamaan sembari adu ketrampilan menyelam di perairan alami Ujung Kulon.

6. Kembali ke Penginapan dan Menghabiskan Malam di Resort Ciputih

Puas menikmati keindahan bawah laut Ujung Kulon, kami kembali ke pantai Ciputih untuk beristirahat dan bermalam di Ciputih Beach Resort. Mengarungi laut tenang di Ujung Kulon selama dua setengah jam akhirnya kami sampai di pantai Ciputih menjelang senja. Menunggu momen matahari terbenam membuat kami tidak ingin terburu-buru masuk ke kamar, kami pun puas mendapatkan beberapa foto indahnya matahari terbenam di pantai Ciputih, selanjutnya kami masuk ke kamar masing-masing, istirahat dan bersih-bersih menikmati makan malam yang akan disajikan di restoran Ciputih Resort. .

Selain sebagai tempat menginap dan bermalam, pantai Ciputih juga menjadi lokasi yang tepat untuk menyaksikan matahari terbenam dan menunggu senja di Ujung Kulon.

7. Menyusuri Sungai Cigenter Menggunakan Kano Sambil Menikmati Keindahan Alami Taman Nasional Ujung Kulon Banten

Pagi-pagi sekali kami dibangunkan oleh para pemandu wisata untuk berkumpul di pantai Ciputih untuk melakukan olah raga yang menyenangkan sebelum memulai perjalanan seru hari terakhir kami di Ujung Kulon.

Senam pagi di pantai Ciputih sebelum memulai aktivitas sangat bermanfaat untuk membangkitkan semangat dan mengendurkan otot-otot yang kaku

Meski ringan dan lucu, namun gerakan-gerakan olahraga yang kita lakukan juga mampu membuat tubuh sedikit berkeringat dan menjadi semangat. Setelah absensi dan yakin semua peserta sudah berkumpul di pantai, kami kembali ke kapal induk dan diantar secara bergantian dengan perahu kecil yang disiapkan hanya untuk memindahkan peserta dari pantai menuju kapal induk.

Sama seperti hari sebelumnya, sarapan disajikan di atas kapal sambil menikmati perjalanan menuju sungai Cigenter di Pulau Handeleum yang berjarak setengah jam perjalanan. Pagi ini ombak yang cukup tenang membuat kami sangat nyaman menikmati sarapan pagi di perjalanan. Sesekali terlihat ikan-ikan yang melompat tinggi diatas permukaan laut, mungkin inilah yang disebut dengan ikan terbang. Kemunculan ikan-ikan ini membuat kealamian kawasan Ujung Kulon semakin terasa.

Awalnya sampan dikayuh perlahan sambil menyaksikan alam liar di sekitar Cigenter, namun saat kembali ke titik awal suasana keheningan hutan pun pecah setelah masing-masing sampan saling berpacu dan saling ciprat.

Replika Sungai Amazon di Cigenter

Sungai Cigenter Ujung Kulon sering dijuluki Sungai Amazon-nya Indonesia. Adanya perasaan ragu untuk mengikuti kegiatan bersampan atau berkano di sungai Cigenter. Mengingat julukannya yang disamakan dengan Amazon, yang terlintas di benak kita adalah binatang buas dan liar seperti yang ada di sungai Amazon.

Sesampainya di dekat Pulau Handeleum yang mengaliri Sungai Cigenter, kapal berhenti, seperti halnya pantai Ciputih, kapal tidak bisa menepi ke pantai karena takut menabrak karang di sekitar pantai Pulau Handeleum. Secara bergantian kami dibawa ke pantai menggunakan speed boat yang disediakan.

Dari pantai Pulau Handeleum Taman Nasional Ujung Kulon, kami berjalan kaki beberapa puluh meter saja untuk sampai ke sungai Cigenter. Beberapa perahu dayung tanpa mesin terlihat terparkir di tepian sungai. Ini adalah sampan yang kami gunakan untuk menyusuri sungai Cigenter Ujung Kulon. Satu demi satu kami menaiki sampan yang mampu menampung 10 hingga 15 penumpang. Setiap sampan dilengkapi dengan delapan dayung untuk menjalankannya. Salah satu pemandu duduk di bagian belakang sampan yang bertugas memandu kami dan mengarahkan sampan.

Di sepanjang aliran sungai Cigenter, pepohonan hutan yang rindang menjadi pemandangan kami. Tidak salah jika sungai Cigenter dijuluki sungai Amazon, suasana hutannya yang tenang dan sangat alami menjadi pengalaman wisata yang belum pernah ditemui di destinasi lain. Hanya suara serangga hutan yang terdengar saat mengayuh sampan, sesekali terlihat kera bergelantungan dan melompat di balik pepohonan. Menurut pemandu, terkadang kita bisa melihat ular melilit dahan pohon yang melintasi sungai. Sayangnya kali ini kami tidak melihat satupun ular dalam petualangan kami menyusuri sungai Cigenter. Tak hanya menikmati petualangan menyusuri sungai Cigenter di tengah hutan belantara, aktivitas berperahu kami pun akhirnya memecah kesunyian setelah salah satu teman kami mulai saling menyiram sampan. Perang siram dan balap dayung juga membuat aktivitas di Sungai Cigenter semakin menyenangkan. Perjalanan menyusuri sungai Cigenter sekitar satu kilometer nyaris mustahil dilakukan.

Setelah semua perahu kembali ke titik semula, kami bersiap untuk kembali ke kapal induk menggunakan speedboat. Tujuan selanjutnya menuju Pulau Badul untuk melakukan aktivitas snorkeling sekaligus menutup aktivitas wisata selama berada di Taman Nasional Ujung Kulon Banten.

8. Explore Pulau Badul, snorkeling dan jelajah pulau

Setelah beberapa menit berlayar menjauhi Pulau Handeleum dan menyusuri Sungai Cigenter, akhirnya kami sampai di Pulau Badul. Kapal ditambatkan 100 meter dari Pulau Badul. Dari kejauhan terlihat pulau kecil seluas beberapa hektar dengan pemandangan pepohonan di tengah lingkaran pantai berpasir putih bersih. Tak sabar menunggu lama, kami pun terjun satu persatu ke dalam laut menikmati pemandangan bawah laut sambil berenang menuju Pulau Badul.

Terlihat penanaman karang yang cukup merata di sekitar perairan Pulau Badul, nampaknya Pulau Badul merupakan salah satu lokasi yang dijadikan sebagai tempat pelestarian terumbu karang. Dengan kedalaman 2 hingga 4 meter, air laut di sekitar Pulau Badul sangat jernih. Kita bisa melihat dengan jelas sampai ke dasar laut.

9. Wisata Ujung Kulon berakhir dan Kembali ke Jakarta

Tak terasa 1,5 jam sudah menikmati keindahan alam Pulau Badul, saatnya kembali naik perahu dan kembali ke pantai Ciputih. Masih belum cukup waktu untuk menikmati keindahan alam Taman Nasional Ujung Kulon. Tapi kami tetap harus kembali ke Jakarta karena besok kami harus kembali menjalani rutinitas kerja.

Sesampainya di Ciputih Resort, seluruh peserta bersiap untuk check out dari hotel dan mempersiapkan barang bawaannya kemudian berkumpul kembali di dalam bus. Usai berdoa bersama, kami pun memulai perjalanan meninggalkan keindahan alam Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Perjalanan wisata pembuka tahun ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan hanya di Taman Nasional Ujung Kulon Banten!

Peta Lokasi Taman Nasional Ujung Kulon Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *