Ujung Kulon: Keberlanjutan Harimau Jawa yang Menakjubkan

ujung kulon keberlanjutan harimau jawa yang menakjubkan
ujung kulon keberlanjutan harimau jawa yang menakjubkan
Rate this post

Sempat beredar kabar seekor Harimau Jawa terlihat dan tertangkap kamera usai memangsa banteng Jawa di padang rumput Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Meski resmi dinyatakan oleh International Union of Conservation for Nature (IUCN) pada pertengahan tahun 1970-an, salah satu subspesies harimau di Indonesia dinyatakan punah. Namun pada pertengahan bulan Agustus 2017 beredar sebuah foto yang mengejutkan, sebuah foto yang diambil secara tidak sengaja dengan kamera ponsel memperlihatkan seekor predator yang diduga harimau jawa meninggalkan seekor banteng yang tergeletak karena diterkam dan dimakan.

Harimau Jawa mulai diburu pada tahun 1800an dan awal tahun 1900an. Ia dianggap punah pada tahun 1976. Namun bukti yang ditemukan peneliti memberikan harapan optimis: harimau jawa masih ada di Ujung Kulon.

Melihat foto hewan karnivora menerkam mangsanya sebenarnya merupakan hal yang lumrah, namun jika memperlihatkan sosok sebenarnya atau menyerupai harimau jawa maka akan menjadi langka dan berbeda, menjadi harapan baru karena spesies dengan nama ilmiah Panthera tigris sondaica ini memiliki telah dianggap punah atau tidak ada sejak tahun 1976.

Punah dalam kamus besar bahasa indonesia artinya hilang segala sesuatunya sampai tidak ada lagi yang tersisa. Dalam definisi lain, suatu spesies dikatakan punah jika anggota terakhir dari spesies tersebut mati. Kepunahan terjadi ketika tidak ada lagi makhluk hidup dari spesies tersebut yang dapat berkembang biak dan membentuk generasi. Suatu spesies juga dikatakan punah secara fungsional, jika sebagian anggotanya masih hidup namun tidak dapat berkembang biak, misalnya karena sudah tua, atau jenis kelaminnya hanya satu.

Dibandingkan dengan jenis harimau lain di benua Asia, harimau Jawa memiliki perawakan yang relatif kecil. Namun harimau ini mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan harimau bali dan kurang lebih sama ukurannya dengan harimau sumatera. Harimau jawa jantan berbobot 100-140 kg, sedangkan betina berbobot lebih ringan, antara 75-115 kg. Panjang kepala dan badan hewan jantan sekitar 200-245 cm; hewan betina sedikit lebih kecil.

“Abah Gede” Tertangkap Kamera di Padang Penggembalaan Cidaon, Ujung Kulon

Merupakan kegiatan rutin petugas Taman Nasional Ujung Kulon di sekitar kawasan Padang Penggembalaan Cidaon untuk melakukan pemantauan rutin terhadap populasi Banteng Jawa di Ujung Kulon. Bersamaan dengan itu juga terdapat beberapa tamu asing yang sedang berkunjung dan didampingi oleh pemandu wisata.

Secara tidak sengaja Pak Isnen, Kapten kapal Ujung-Kulon.com melihat sosok “Abah Gede” atau “Lodaya” sebutan warga setempat dengan Harimau Jawa di tengah Savana Cidaon. Ia bergegas memberi tahu petugas yang kebetulan hanya membawa kamera ponsel yang ia gunakan sehari-hari. Tanpa pikir panjang, beberapa gambar dan video pendek diambil untuk mengabadikan momen langka tersebut.

Foto di atas diambil oleh Gabel (sapaan akrabnya), salah satu petugas Taman Nasional Ujung Kulon yang tidak sengaja melihat kucing besar tersebut saat melakukan kegiatan rutin pemantauan populasi Banteng Jawa di Padang Savana/Penggembalaan Cidaon.

Suasana di Lapangan Penggembalaan Cidaon saat itu relatif sepi dari binatang dan satwa liar dibandingkan biasanya, yang tersisa hanyalah beberapa ekor sapi jantan liar dan bangkai seekor banteng serta beberapa ekor burung merak hijau yang ada disekitarnya.

Bagaimana pendapat warga sekitar Taman Nasional Ujung Kulon terhadap pemberitaan yang tersebar tentang Harimau Jawa di Ujung Kulon? Dugaan tertangkap kamera Harimau Jawa di Padang Penggembalaan Cidaon setelah dinyatakan punah 47 tahun lalu, bukan hal yang mengejutkan bagi masyarakat Desa Sumur, Pandeglang, yang merupakan penduduk asli kawasan Ujung Kulon.

Masyarakat setempat meyakini harimau jawa masih ada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Semenanjung Ujung Kulon memang menjadi salah satu tempat hidup hewan karnivora berbadan belang. Savana Cidaon merupakan bagian dari zona inti taman nasional yang memiliki luas pengelolaan 122.956 hektar.

Foto yang diambil petugas TNUK memperlihatkan seekor sapi jantan tergeletak mati, sementara terlihat seekor sapi jantan lain di belakangnya. Satwa liar yang diduga harimau jawa itu kemudian menjauh, sementara tiga ekor burung merak terlihat bergegas menghindarinya

Menurut para ahli, itu bukan harimau jawa melainkan macan tutul. Tersebarnya kabar hasil dokumentasi yang menyebutkan Harimau Jawa muncul kembali dari persembunyiannya cukup menggembirakan sekaligus ada yang meragukan apakah predatornya adalah Harimau Jawa, terutama di kalangan peneliti dan ahli. Salah satu peneliti yang terlibat langsung dalam investigasi, WWF Indonesia, menyatakan 90 persen foto dan video yang ada tidak menampilkan harimau Jawa.

“Analisis sepintas terhadap gambar kucing besar tersebut sejauh ini belum membuktikan bahwa itu adalah harimau. Kecurigaan yang paling kuat adalah macan dahan atau Panthera pardus.” Dugaan sementara WWF adalah karena memperhatikan masalah morfologi (ukuran/bentuk), kepala lebih kecil dari harimau, tinggi badan setara burung merak dewasa, panjang ekor juga lebih kecil, mencerminkan ciri-ciri dasar macan tutul. ketimbang harimau jawa.

Penelitian tersebut menggunakan metode morfometri yaitu pengukuran dimensi tubuh dugaan harimau jawa terhadap perbandingan kontrol burung merak hijau yang berada tidak jauh dari mamalia tersebut.

Misteri Harimau Belang di Hutan Ujung Kulon

Dengan menggunakan metode morfometri diketahui ukuran tubuh hewan liar tersebut adalah 100,9-111 cm dan panjang ekor 75,1-82,7 cm. Temuan tersebut kemudian dibandingkan dengan ukuran macan tutul yang memiliki panjang tubuh 92-190 cm dan panjang ekor 94-99 cm. “Dari sini saja terlihat ukurannya mendekati macan tutul,” kata Taufik dari LIPI kepada x.detik.com.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dengan tegas menyatakan 90-95 persen foto predator yang diduga harimau jawa adalah macan tutul jawa.

Teknik penelitian yang kedua masih berupa proses dokumentasi foto yaitu dengan menggunakan metode deblurring dan kontras enhancement yaitu melakukan serangkaian manipulasi foto untuk mempertajam sosok terduga harimau jawa. Alhasil, kulit harimau yang terekam kamera memiliki motif belang, sedangkan kulit harimau jawa memiliki motif loreng atau loreng.

Hingga saat ini populasi macan tutul jawa diperkirakan akan berjumlah 500 ekor. Angka tersebut semakin hari semakin menyusut jika melihat luas hutan di Pulau Jawa, belum lagi adanya perburuan liar yang dilakukan pihak tidak bertanggung jawab.

Predator di Taman Nasional Ujung Kulon yang sering ditemui adalah macan tutul (Panthera Pardus), anjing hutan (Cuon Alpinus), macan dahan (Neofelis Nebulosa), musang (Paradoxurus hermaphroditus) dan kucing hutan (Felis Bengalensis), namun suhu udara saat ini adalah sangat panas dan kering di sana. Kecil kemungkinan predator lain akan turun atau keluar hutan untuk mencari sumber makanan lain

Arti kata Punah dalam bahasa pelestarian alam adalah :

Punah dalam bahasa konservasi bukan berarti tidak ada individu sama sekali atau tidak ada sama sekali. Kalimat punah dinyatakan jika hewan tersebut masih ada namun tidak dapat berkembang biak lagi, hal ini dapat disebabkan karena individu terakhir tidak diketahui jenis kelaminnya, atau terdapat 10 ekor harimau yang berjenis kelamin sama.

Namun dibalik data dan fakta yang dihimpun dari lapangan, fakta di luar dugaan tersebut menjadi harapan banyak pihak terkait keberadaan Harimau Jawa yang legendaris di Pulau Jawa. Karena pemberitaan ini ramai dibicarakan dan diungkap oleh banyak media cetak dan online, masih ada harapan untuk menindaklanjutinya dengan penelitian dan pengumpulan bukti di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *